Dari Hawa Untuk Hawa

June 29th, 2006 by indhi-onde

Sedarkah engkau sebelum datangnya sinar islam, kita dizalimi, hak kita dicerobohi, kita ditanam hidup-hidup, tiada penghormatan walau secebis oleh kaum adam, tiada nilaian dimata adam, kita hanya sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Tapi kini bila rahmat Islam menyelubungi alam bila sinar Islam berkembang, darjat kita diangkat, maruah kita terpelihara, kita dihargai dan dipandang mulia, dan mendapat tempat di sisi Allah sehingga tiada sebaik-baik hiasan di dunia ini melainkan wanita solehah.

Wahai Hawa,

Kenapa engkau tak menghargai nikmat iman dan Islam itu? Kenapa mesti engkau kaku dalam mentaati ajaranNya, kenapa masih segan mengamalkan isi kandungannya dan kenapa masih was-was dalam mematuhi perintahNya?

Wahai Hawa,

Tangan yang mengoncang buaian bisa mengoncang dunia, sedarlah hawa kau bisa mengoncang dunia dengan melahirkan manusia yang hebat yakni yang soleh solehah, kau bisa mengegar dunia dengan menjadi isteri yang taat serta memberi dorongan dan sokongan pada suami yang sejati dalam menegakkan Islam di mata dunia. Tapi hawa jangan sesekali kau cuba mengoncang keimanan lelaki dengan lembut tuturmu, dengan ayu wajahmu, dengan lengguk tubuhmu. Jangan kau menghentak-hentak kakimu untuk menyatakan kehadiranmu.

Jangan Hawa,

jangan sesekali cuba menarik perhatian kaum adam yang bukan suamimu. Jangan sesekali mengoda lelaki yang bukan suamimu, kerana aku khuatir ia mengundang kemurkaan dan kebencian Allah. Tetapi memberi kegembiraan pada syaitan kerana wanita adalah jala syaitan, alat yang dieksploitasikan oleh syaitan dalam menyesatkan Adam.

Hawa,

Andai engkau masih remaja, jadilah anak yang solehah buat kedua ibubapamu, andai engkau sudah bersuami jadilah isteri yang meringankan beban suamimu, andai engkau seorang ibu didiklah anakmu sehingga ia tak gentar memperjuangkan ad-din Allah.

Hawa,

Andai engkau belum berkahwin, jangan kau risau akan jodohmu, ingatlah hawa janji tuhan kita, wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Jangan mengadaikan maruahmu hanya semata-mata kerana seorang lelaki, jangan memakai pakaian yang menampakkan susuk tubuhmu hanya untuk menarik perhatian dan memikat kaum lelaki, kerana kau bukan memancing hatinya tapi merangsang nafsunya. Jangan memulakan pertemuan dengan lelaki yang bukan muhrim kerana aku khuatir dari mata turun ke hati, dari senyuman membawa ke salam, dari salam cenderung kepada pertemuan dan dari pertemuaan??¥..takut lahirnya nafsu kejahatan yang menguasai diri.

Hawa,

Lelaki yang baik tidak melihat paras rupa, lelaki yang soleh tidak memilih wanita melalui keseksiannya, lelaki yang warak tidak menilai wanita melalui keayuaannya, kemanjaannya, serta kemampuannya mengoncang iman mereka. Tetapi hawa, lelaki yang baik akan menilai wanita melalui akhlaknya, peribadinya, dan ad-dinnya. Lelaki yang baik tidak menginginkan sebuah pertemuan dengan wanita yang bukan muhrimnya kerana dia takut menberi kesempatan pada syaitan untuk mengodanya. Lelaki yang warak juga tak mahu bermain cinta sebabnya dia tahu apa matlamat dalam sebuah hubungan antara lelaki dan wanita yakni perkahwinan.

Oleh itu Hawa,

Jagalah pandanganmu, jagalah pakaianmu, jagalah akhlakmu, kuatkan pendirianmu. Andai kata ditakdirkan tiada cinta dari Adam untukmu, cukuplah hanya cinta Allah menyinari dan memenuhi jiwamu, biarlah hanya cinta kedua ibubapamu yang memberi hangatan kebahagiaan buat dirimu, cukuplah sekadar cinta adik beradik serta keluarga yang akan membahagiakan dirimu.

Hawa,

Cintailah Allah di kala susah dan senang kerana kau akan memperolehi cinta dari insan yang juga menyintai Allah.Cintailah kedua ibubapamu kerana kau akan perolehi keredhaan Allah. Cintailah keluargamu kerana tiada cinta selain cinta keluarga.

Hawa ,

Ingatanku yang terakhir, biarlah tangan yang mengoncang buaian ini bisa mengoncang dunia dalam mencapai keredhaan Illahi. Jangan sesekali tangan ini juga yang mengoncang keimanan kaum Adam, kerana aku sukar menerimanya dan aku benci mendengarnya.

—– Original Message —–

From: "Nor Azizah binti Arif"

Sent: Thursday, June 15, 2006 11:21 AM

Subject: FW: Dari Hawa Untuk Hawa

Wahai Ikhwan Rujulah-lah engkau>><< wahai Akhwat Tegaslah engkau

June 29th, 2006 by indhi-onde
sebuah artikel dari www.kafemuslimah.com
Seorang ikhwan yang aktifis  kampus, sekolah dan syabiah karena


masih menjadi seorang jejaka, maka tak jarang ia sering membatin,


berangan-angan, dan bercita-cita membentuk rumah tangga Islami


dengan seorang Muslimah sholihat yang menyejukkan hati dan mata.


Alangkah bahagianya menjadi seorang suami dan seorang "qowwam"


yang "qooimin bi nafsihi wa muuqimun lil ghoirihi" (tegak atas


dirinya dan mampu menegakkan orang lain, terutama isteri dan anak-


anaknya). Juga menjadi 'imam yang adil' yang akan memimpin dan


mengarahkan isteri dan anak-anaknya.




 

Namun sayang disayang cita-cita, harapan hanya tertinggal dalam


pikiran saja, hanya baru menjadi angan angan. Padahal semangat sudah


mengebu gebu, sang ikhwan masih meragu karena berpikir belum lah


mampu, atau karena ia belum yakin untuk menyerahkan urusan Jodohnya


hanya pada Allah. Atau karena maisyahnya belum seberapa, atau


kriteria calon istrinya setinggi langit sebesar dunia.  Karena


itulah sang ikhwan melakukan Proses Studi Kasus, atau penjajakan


pada beberapa akhwat. Dengan komunikasi dua arah, memberi perhatian,


menjadikan sang akhwat teman curhat, teman diskusi, sahabat ataupun


dengan tedeng adik kakak.




 

Selain itu juga termasuk dalam mencermati kebiasaan dan cara pandang


dan aktivitas dalam etika melamar dan mendekati seorang akhwat.


Dalam Islam memang tidak dianjurkan untuk berpacaran HTS, TTM atau


apapun namanya, yang realitasnya hampir sama dengan pacaran dan


memang terbukti sekali mendekati zina minimal zina hati dan pikiran.


Tapi kebanyakan yang terjadi, banyak para ikhwan yang mempermainkan


perasaan si akhwat yang terjaga tersebut, si akhwat dibuat Ge-eR


sedemikian rupa dengan diberikan perhatian-perhatian yang intens


(padahal si ikhwan cuma sekedar ingin uji coba aja dan belum


memiliki nyali untuk melamar apalagi untuk menikah).




 

Kebanyakan kasus, si akhwatnya yang menunggu dan mengharap-harap


cemas ingin segera dilamar, tapi si prianya cuma memanfaatkannya


sebagai teman curhat atau teman untuk pendekatan saja untuk


selanjutnya lihat saja nanti. Kalau cocok dan sreg di hati maka bisa


dilanjutkan ke ta'aruf yang sebenernya




 

Memang harus diakui, bagaimanapun kami seorang akhwat tetaplah


seorang wanita yang akan merasa senang dan tersanjung bila diberikan


perhatian dari seorang ikhwan, apalagi bila ikhwan tersebut terlihat


memiliki niat yang serius. Sangat disayangkan pada realitasnya


banyak di kalangan akhwat yang tidak menyadari bahwa ikhwan ikhwan


yang datang dan memberikan perhatian kepadanya, tidak semuanya


berniat untuk meminang dengan serius. Tapi kebanyakan hanya sekedar


untuk penjajakan semata. Hanya untuk melihat bagaimana karakter dan


pola pikir si akhwat. Lagi-lagi tetap saja pengambilan keputusannya


ada pada si ikhwan, pertimbangan apakah si akhwat sudah berharap


banyak atau tidak, sayang sekali tidak banyak dipikirkan oleh si


ikhwan.




 

Tentunya para akhwat yang jeli tidak akan sudi diperlakukan


demikian, dipermainkan perasaannya hanya sekedar guna penjajakan


saja. Apa bedanya dengan orang-orang yang lain yang melalui proses


berpacaran, bedanya toh hanya kemasannya saja.




 

Karena itu wahai ikhwan Rujulah (bersikap jantan ) lah engkau,


karena kami (wanita) makhluk yang dimuliakan oleh Allah, dijaga


betul kehormatannya agar tidak diganggu dan dilecehkan oleh orang-


orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Karenanya tata cara


berpakaian dan etika pergaulan kami juga dijaga ketat oleh syariat


Islam, dengan tujuan agar kami tetap terjaga dan terhormat. Dan yang


cenderung lebih serius untuk komitmen dan berusaha konsisten untuk


menjaga diri sesuai dengan syariat Islam, kebanyakan dilakukan oleh


kami para akhwat.




 

Jika memang berniat menikah maka benahi dulu ibadah, karena kualitas


dan kuantitas ibadah sangat mencerminkan kualitas diri, luruskan


niat, bahwa menikah itu karena ingin mendapat pahala dan ridho Allah


Subhanahu wa Ta'ala serta tidak ingin mendapat dosa dan murka Allah


Subhanahu wa Ta'ala. Menikah bukan karena keinginan nafsu belaka,


ingat menikah bagi seorang aktivis merupakan awal tonggak baru


perjalanan dakwahnya karena itu niatkan menikah sebagai ibadah,


bukan sebagai penenang hati yang resah. Walaupun memang benar dengan


menikah hati menjadi lebih tenang, dan bersemangat dalam dakwah,


karena ada pendamping yang selalu menyemangati, memberi dukungan,


mendoakan, mengkritisi dan lain lain.




 

Semoga pernikahan yang akan terjadi memenuhi kriteria Lillah,


Billah, dan Ilallah. Yang mereka maksud Lillah , ialah niat menikah


itu karena Allah. Proses dan caranya harus Billah , sesuai dengan


ketentuan dari Allah. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan


proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau


tidak). Terakhir Ilallah , tujuannya dalam rangka menggapai


keridhoan Allah. Sehingga dalam penyelenggaraan pernikahan nanti


tidak bermaksiat pada Allah




 

Intinya, Wahai Ikhwan Rujulah lah engkau, jangan permainkan kami,


dan kepada saudari saudari ku yang lain, jangan mau dijadikan lawan


HTS-an, TTM-an atau apapun namanya, karena ketegasan ada pada


akhwat, jagalah diri dan kehormatan kita, sebagai akhwat kita juga


punya izzah, dan juga belum tentu ikhwan yang selama ini paling


asyik dan paling cocok berkomunikasi dengan kita itu adalah jodoh


kita, wahai ukhti kasihanilah suamimu nanti, bila hati mu tak lagi


perawan, betapa banyak dan panjang daftar pengakuan kita nanti pada


suami. Wahai akhwat tenang sajalah, jika sudah saatnya menikah maka


jodoh akan datang dengan sendirinya, "Pria yang baik akan


mendapatkan wanita yang baik, dan Pria yang Keji akan mendapatkan


Wanita yang Keji"




 

Oh ya satu lagi, yang sering terlupakan oleh ikhwan maupun akhwat


yakni Tata Krama yang berlaku umum untuk lelaki dan perempuan


(termasuk dlm akhlak seorang muslim)




 

1. Komunikasi antara keduanya harus dalam batas ucapan yang baik,


tidak mengandung kemunkaran, tidak mengandung hal yang tidak


bermanfaat,dsb (QS.33:12)


2. Menundukkan pandangan (QS.24:30-31) kecuali dalam hal pendidikan,


kesehatan/kedokteran, jual beli, dan meminang.


3. Menghindari percampuran antara lawan jenis (ikhtilat)


4. Tidak berkhalwat / berduaan antara lawan jenis melalui media


apapun, perbincangan. k


5. Menghindari posisi syubhat yang memungkinkan munculnya pandangan


negatif dari orang  lain




 

afwan jiddan jika apa yang saya tulis menggores hati beberapa orang


disini, sesungguhnya ini bukan sindiran atau apapun namanya, saya


juga pernah merasakan akibat tidak enak dari hal hal diatas, saya


hanya ingin menjadikan hal tersebut sebagai bahan pelajaran bagi


diri saya, sekaligus agar ukhti ukthi yang lain juga dapat mengambil


hikmahnya, saya tak punya dendam pribadi dengan yang namanya ikhwan,


karena sesungguhnya suatu saat nanti saya akan punya pendamping juga


(yang pasti ikhwan, tidak mungkin

kan

 akhwat?????).

Becak ….

June 8th, 2006 by indhi-onde

Kok becak seh?!?

Emang kenapa dengan becak? :)) ya..gapapa sih. cuma rasanya tiba2 kangen dengan yang namanya becak neh. kangen duduk didalamnya. kangen ngrasain hujan2 naik becak. kangen dengan penampilan khasnya abang-abang becak. kangan dengan suara belnya. kangen dengan ….. pokoknya mah segalanya yg berkaitan dengan becak.

Huh udik!!!! becak aja dikangenin. eeeehhhh… suer!!!

Tau ga kenapa jd kangen? karena disamarinda tuh ga ada becak tau!!! ga ada orang yg mau jadi tukang becak disini. karena kontur tanah Samarinda tuh ga rata. malah kasian tukang becaknya nanti kalo harus ndorong para penumpangnya naik turun ngelewati jalanan yang naik turun ga rata.

Saking lamanya ga liat becak blas blas sama sekali, saya merasa sangat aneh ketika menaikinya lagi ketika pulang ke Surabaya bulan Januari kemaren. rasanya asing, seperti baru pertama kalinya punya pengalaman naik becak. hi hi hi …. kali ini bener-bener udik. Apalagi saat duduk didalamnya, ada sensasi rasa tersendiri. Lebih seperti perasaan bernostalgia pada hal-hal di masa lalu. ya maklumlah…. sudah lebih dari 2 tahun tidak ke Jawa, yang artinya 2 tahun juga ga melihat becak.

Hehehehe……sekarang…hari ini…siang ini… ketika merasakan panasnya kota Samarinda sembari naik motor, saya merindukan duduk manis didalam becak. biar saja tukang becaknya yang kepanasan…saya tinggal membayar berapapun upah yang dimintanya.

jadi teringat lagu pas TK…

Saya mau tamasya berkeliling-keliling kota

Sambil melihat-lihat keramaian yang ada

Saya panggilkan becak

Kereta tak berkuda

Becak…becak… tolong bawa saya

Saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki

Melihat dengan asyik kekanan dan kekiri

Lihat becakku lari…bagaikan tak berhenti

Becak…becak…jalan hati-hati

:-))

June 6th, 2006 by indhi-onde

Ukhuwah itu bukan terletak pada pertemuan

Bukan pada manisnya ucapan dibibir

Tapi terletak pada ingatan seseorang

terhadap saudaranya didalam doa-doanya

June 6th, 2006 by indhi-onde

Satu pohon bisa menjadi HUTAN

Satu senyum bisa jadi PERSAHABATAN

Satu sentuhan bisa jadi PERHATIAN

dan….

Satu Saudara seperti kalian-kalian

Bisa menjadi seribu CINTA di hati …..

June 6th, 2006 by indhi-onde

Seorang mukmin seharusnya mempunyai sebuah ruang kecil dalam hatinya

Ruang yang selalu bening dimana rasio tak terkaburkan oleh perasaan

Ruang yang selalu jernih dimana emosi tak mendapat tempat untuk berekspresi

Ruang yang selalu bersih dimana akal sehat tak terpolusi oleh ego

Sebenarnya hati kita menyuguhkan kelapangan dan kesempitan

Kemudahan dan kesulitan ……. Senyuman dan kedongkolan

Tinggal kita memilihnya kini ….

Jangan buat hari-hari kita menyesakkan dengan perasaan

Senyumlah ….

Dan coba temukan sisi lain dari perjalanan-perjalanan hidup yang menurut kita men’jengkel’kan

(Taujih dari seorang teman ketika hati sangat sempit)

June 6th, 2006 by indhi-onde

Sahabat yang beriman … ibarat mentari yang menyinari

Sahabat yang setia … bagai pewangi yang mengharumkan

Sahabat sejati … menjadi pendorong impian

Sahabat berhati mulia … membawa kita menuju jalan Allah SWT

(29 Mei 2006)

June 6th, 2006 by indhi-onde

Ketahuilah setiap orang yang menolak menghamba pada Allah

dalam bentuk ketaatan dan kecintaan pada-NYA,

Maka ia akan diuji dengan penghambaan

pada sesama makhluk Mencintai dan mengabdinya……

(27 Maret 2006)

Do’a kita

June 6th, 2006 by indhi-onde

Ya Allah….

Kami memohon kepada-MU iman yang tak  tergoyahkan

Keberanian yang tak pernah surut

Dan tetapkanlah kami dalam Islam

Serta dalam aktivitas dakwah

Hingga saat kami bertemu denganmu

Amiiin…..

(7 Maret 2006 )

ukhuwah

June 6th, 2006 by indhi-onde

Ukhuwah is sweet when it’s NEW

It’s sweeter when it’s TRUE

And one of the sweetest when it’s YOU

Nice to have someone like you as my sister and my brother in ISLAM

(10 Sept 2005)